Sabtu, 09 April 2011

Filosofi sang PEMIMPIN


Dalam falsafah hidup budaya jawa kita kenal yang namanya ular-ular ataupun piwulang. Sebutlah HASTA BRATA yang merupakan teori kepemimpinan, berisi mengenai hal-hal yang disimbolisasikan dengan benda atau kondisi alam seperti Surya, Candra, Kartika, Angkasa, Maruta,Samudra,Dahana dan Bhumi.
Hasta Brata dapat diartikan sebagai delapan laku/sifat seorang pemimpin. Istilah Hasta Brata diambil dari buku Ramayana karya Yasadipura I (abad 18) dari keraton Surakarta Hadiningrat.

1. Surya (Matahari), memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan. Pemimpin hendaknya mampu menumbuhkembangkan daya hidup rakyatnya untuk membangun bangsa dan negaranya.
2. Candra (Bulan), yang memancarkan sinar ditengah kegelapan malam. Seorang pemimpin hendaknya mampu memberi semangat kepada rakyatnya ditengah suasana suka ataupun duka.
3. Kartika (Bintang), memancarkan sinar kemilauan, berada ditempat tinggi hingga dapat dijadikan pedoman arah, sehingga seorang pemimpin hendaknya menjadi teladan bagi untuk berbuat kebaikan
4. Angkasa (Langit), luas tak terbatas, hingga mampu menampung apa saja yang datang padanya. Prinsip seorang pemimpin hendaknya mempunyai ketulusan batin dan kemampuan mengendalikan diri dalam menampung saran dan pendapat rakyatnya yang bermacam-macam.
5. Maruta (Angin), selalu ada dimana-mana tanpa membedakan tempat serta selalu mengisi semua ruang yang kosong. Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyat, tanpa membedakan derajat dan martabatnya.
6. Samudra (Laut/Air), betapapun luasnya, permukaannya selalu datar dan bersifat sejuk menyegarkan. Pemimpin hendaknya bersifat kasih sayang terhadap rakyatnya.
7. Dahana (Api), mempunyai kemampuan membakar semua yang bersentuhan dengannya. Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan berani menegakkan kebenaran secara tegas tanpa pandang bulu.
8. Bhumi (Bumi/Tanah), bersifat kuat dan murah hati. Selalu memberi hasil kepada yang merawatnya. Pemimpin hendaknya bermurah hati (melayani) pada rakyatnya untuk tidak mengecewakan kepercayaan rakyatnya.
kena cepet ning aja ndhisiki, kena pinter ning
aja ngguroni, kena takon ning aja ngrusuhi

2 komentar:

  1. Kedahipun pemimpin gadhah filosofi kados ing nginggil punika, nanging sakmenika ketingalipun sampun tebih saking filosofi kasebat, ingkang wonten nggih kados seratan Mas Kumitir ing mriki..
    http://alangalangkumitir.wordpress.com/2010/12/14/ndulu-kuwasa-rusaking-tata/

    BalasHapus
  2. Jaman sampun edan mas, yen ora melu edan ora keduman. Hampir semua alur kehidupan terseret dalam JAMAN EDAN
    Mestine muncul hukum kewarasan, yang miskin menjadi kaya, yang tertindas menjadi pemimpin, yang dulu diperintah berbalik jadi memerintah, hahahahaha.
    Boleh dibilang saat ini individualisme dalam mengejar kepentingan masing-masing berkonsekuensi pada nilai MATERIALISME, uang, duit, arto, money
    Hihihi kok malah ngelantur ngudo roso………..

    Leres mas, tulisanipun Mas Kumitir tajem menggelitik

    BalasHapus